
Pagi itu, suasana di SMKIT IHSANUL FIKRI tampak berbeda. Di tengah kekhidmatan upacara peringatan Hari Kebangkitan Nasional yang ke-118, sebuah pesan mendalam bergema, menyasar langsung sanubari para siswa yang disebut sebagai “tunas bangsa”
Upacara bendera pagi itu terasa spesial karena di selenggarakan bertepatan dengan 20 Mei yaitu hari kebangkitan Nasional, dan berikut ini adalah rangkuman pesan yang di sampaikan pembina upacara dan sebagai pembina upacara Ust. Sunarso, S.Si
“Tema besar tahun 2026, “Menjaga Tunas Bangsa demi Kedaulatan Negara,” bukanlah sekadar deretan kata tanpa makna, melainkan sebuah panggilan darurat bagi generasi muda untuk bersiap menghadapi masa depan.
Visi Indonesia Emas 2045 Peringatan tahun ini sangat krusial karena berkaitan erat dengan visi Generasi Emas 2045. Dalam 19 tahun ke depan, para siswa yang saat ini masih duduk di bangku sekolah akan memasuki usia produktif, sekitar 34 hingga 36 tahun. Mengapa angka ini penting? Secara islami, usia 40 tahun adalah penentu bagaimana seseorang akan menjalani masa tuanya. Jika di usia 30-an kita belum memiliki hidup yang tertata dan masih terjebak dalam kebingungan atau sekadar menghabiskan waktu dengan “mabar” (main bareng), maka masa depan kita akan menjadi tidak jelas atau absurd.
Kedaulatan Digital di Tengah Ironi Literasi Kita mungkin merasa aman karena tidak ada lagi desing peluru atau penjajahan fisik. Namun, kenyataannya bangsa ini sedang mengalami penjajahan di dunia maya dan teknologi. Sebuah fakta pahit terungkap: peringkat literasi Indonesia berada di posisi kedua terbawah di ASEAN.
Yang lebih mengejutkan adalah sebuah ironi yang terjadi di dalam negeri. Daerah yang sering dianggap tertinggal seperti Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB), justru menempati peringkat literasi dan kegemaran membaca tertinggi nasional. Di saat daerah lain yang lebih modern sibuk menggunakan gadget hanya untuk scrolling hal-hal yang tidak berguna, saudara-saudara kita di wilayah yang masih menggunakan cidomo (kereta kuda) justru menunjukkan kemampuan literasi digital yang jauh lebih unggul.
Melawan Kemalasan dan Membangun Integritas Saat ini, kedaulatan negara terancam karena data pribadi diperjualbelikan, bahkan terkadang melibatkan oknum dari dalam negeri sendiri. Sebagai siswa SMK yang berfokus pada Cyber Security dan Basis Data, tanggung jawab menjaga kedaulatan digital ada di pundak kita. Namun, sebelum menyelesaikan urusan negara, kita harus menyelesaikan urusan dengan diri sendiri terlebih dahulu.
Masalah terbesar generasi saat ini bukanlah kurangnya pemahaman, melainkan rasa malas. Untuk mengatasinya, kita perlu membangun pola pikir positif—”Saya bisa, saya bisa, dan saya bisa”—serta memperbaiki disiplin dan ibadah.
Fondasi Spiritual untuk Bangsa yang Kuat Perubahan besar harus dimulai dari hal terkecil: perbaiki hubungan dengan Allah SWT. Salat berjamaah tepat waktu dan kedekatan dengan Al-Qur’an adalah kunci. Tanpa landasan spiritual dan integritas, keahlian teknologi sehebat apa pun hanya akan melahirkan individu yang mudah “menjual data” demi kepentingan pribadi.
Dengan semangat Hari Kebangkitan Nasional, mari kita bergerak maju (move on). Belajarlah dengan sungguh-sungguh, kuasai teknologi dengan backup spiritual yang kuat, agar Indonesia benar-benar menjadi negara yang merdeka, berdaulat, dan baldatun thayyibatun”.
Merdeka! Merdeka! Merdeka!




