KH, Dr, Ahmad Kazban Sarkowi Randhim, Lc
Kembali ke rutinitas sekolah setelah libur panjang dua pekan bukanlah perkara mudah. Sementara kami, para guru dan karyawan, mungkin hanya merasakan jeda lima hari, kami memahami bahwa bagi kalian para santri, transisi ini bisa terasa berat. Ada rasa “loyo” atau malas yang sering kali tidak hanya muncul di hari pertama, tetapi bisa menghantui hingga satu, dua, atau tiga pekan ke depan.
Namun, di tengah rasa kantuk dan sisa-sisa euforia liburan, kita harus sadar bahwa masa depan tidak akan menunggu kita siap. Dalam amanat upacara di SMK IT Insan Mulia baru-baru ini, terselip pesan-pesan mendalam tentang bagaimana kita seharusnya menempa diri. Menghadapi masa depan bukan sekadar tentang seberapa banyak rumus yang kita hafal, melainkan tentang kualitas jiwa yang kita bentuk.
Berikut adalah enam pelajaran berharga untuk membakar kembali semangat kalian.
1. Sunnah: Identitas, Bukan Sekadar Pilihan
Dalam pemahaman yang dangkal, sunnah sering dianggap sebagai “opsional”: dikerjakan mendapat pahala, ditinggalkan tidak berdosa. Namun, di sekolah kita, sunnah adalah standar karakter dan bukti kecintaan kita kepada Nabi Muhammad SAW. Sunnah adalah cara kita membumikan nilai-nilai langit ke dalam perilaku sehari-hari.
“Sunnah itu tidak hanya sekadar kalau menjalankan berpahala, tapi kalau tidak menjalankan tidak mendapatkan apa-apa. Bukan itu ya. Jadi sunnah itu menjadi bukti bahwa kita adalah umatnya Nabi Muhammad SAW… salah satu yang menjadi tujuan adalah membumikan sunnah.”
2. Ibadah Wajib adalah Standar Minimal, Bukan Prestasi
Terkadang, kita merasa sangat bangga saat bisa shalat tepat waktu di masjid atau berpuasa penuh selama sebulan Ramadhan. Padahal, itu adalah kewajiban dasar seorang Muslim. Jika kalian merasa harus mendapatkan hadiah dari orang tua hanya karena puasa penuh, itu sebenarnya hal yang memprihatinkan. Ibadah wajib adalah pondasi; prestasi yang sesungguhnya adalah ketika kalian mampu tegak berdiri di atas pondasi itu dengan karya dan kontribusi yang luar biasa.
3. Logika CEO: Kesulitan adalah Filter Kesuksesan
Dunia ini adil dalam caranya sendiri: ia memberikan rintangan untuk membedakan mana yang benar-benar petarung dan mana yang hanya sekadar pemimpi. Ingatlah sebuah logika sederhana: jika jalan menuju sukses itu mudah, maka semua orang akan menjadi Presiden atau CEO. Kesulitan yang kalian hadapi saat ini—mulai dari tugas yang menumpuk hingga disiplin asrama—adalah filter alami. Hanya mereka yang mau berkorban dan berusaha sekeras-kerasnya yang akan lolos melewati filter tersebut.
4. Pintar vs. Terpercaya: Menghindari Karakter Munafik
Kepintaran akademik tanpa integritas adalah resep menuju kehancuran. Kita melihat banyak orang pintar di luar sana yang menduduki jabatan tinggi, namun tertangkap karena tidak amanah. Bayangkan, ada orang yang memiliki kekayaan luar biasa, bahkan diibaratkan memiliki simpanan emas hingga 75 kilogram. Itu jumlah yang sangat fantastis, bahkan melebihi kandungan emas di puncak Monas yang hanya sekitar 32 atau 72 kilogram. Namun, apa gunanya emas sebanyak itu jika ia tidak bisa dipercaya?
Dunia kerja dan masyarakat lebih membutuhkan orang yang terpercaya daripada sekadar orang yang cerdas. Untuk menjadi pribadi yang unggul, kalian harus menjauhi sifat Munafik dengan menjaga tiga karakter utama:
- Jujur: Tidak pernah berdusta dalam setiap perkataan.
- Amanah: Menjaga setiap tanggung jawab yang diberikan.
- Menepati Janji: Tidak berkhianat atas apa yang telah disepakati.
Pintar, tampan, dan berbakat itu bagus, tetapi dipercaya adalah segalanya.
5. Seni Menjadi ‘Gelas Kosong’ dan Menghargai Guru
Ilmu tidak akan pernah masuk ke dalam hati yang tertutup. Sehebat apa pun guru kalian—seperti Pak Andre yang telah menulis banyak buku dan meraih berbagai prestasi tingkat nasional—ilmu tersebut akan menguap begitu saja jika kalian memilih untuk tidur saat pelajaran atau bersikap tidak kooperatif.
Penting bagi setiap santri untuk mampu “mengosongkan gelas” dan merendahkan hati (bukan rendah diri) di hadapan guru. Kerendahan hati adalah magnet ilmu. Tanpa kerja sama yang baik antara guru yang memberi dan murid yang menerima, potensi luar biasa yang ada dalam diri kalian akan terbuang sia-sia.
6. Manajemen Masalah: Mengurai Gap antara Idealita dan Realita
Masalah muncul ketika kenyataan tidak sesuai dengan keinginan kita. Di mana pun kalian berada, bahkan di sekolah internasional terbaik sekalipun, pasti akan ada hal-hal yang tidak kalian sukai.
Kuncinya bukan pada mengeluh, “garut-garut tembok,” atau menangis di tempat tidur saat malam hari. Kuncinya adalah manajemen pikiran dan waktu. Jangan biarkan diri kalian “nglokro” atau patah semangat karena hal-hal yang tidak ideal. Belajarlah untuk mengurai masalah satu per satu. Ketangguhan mental (resilience) adalah kemampuan untuk tetap berdiri tegak meski realita tak seindah yang dibayangkan.
Kesimpulan: Tentukan Target, Kelola Diri
Kalian sudah baligh, sudah besar, dan sudah saatnya memikirkan masa depan dengan serius. Hidup tanpa target yang jelas akan membuat langkah kalian “mampir-mampir” ke hal yang tidak produktif.
Cobalah untuk meluangkan waktu sejenak. Jika kalian butuh inspirasi, naiklah ke lantai tiga atau duduklah di selasar sambil memandang indahnya Gunung Menoreh. Renungkanlah: apa kekurangan diri yang harus diperbaiki? Target apa yang ingin dicapai dalam satu tahun ke depan?
Sudahkah kita merenung hari ini tentang siapa diri kita dan akan menjadi apa kita nanti? Mulailah mengelola diri sekarang, karena masa depan yang cerah hanya akan menyambut mereka yang datang dengan persiapan, disiplin, dan integritas.
